Minggu, 25 April 2010

WAKTU BERLALU DAN KEMATIAN PASTI DATANG , oleh : Topo Sousia

Alloh berfirman :

“Maka apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya kami menciptakan kamu secara sia-sia, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” ( QS Al-Mukminun: 115)

Modal bagi orang muslim dalam kehidupan dunia ini adalah kesempatan waktu yang sangat singkat, denyut-denyut jantung yang terbatas dan hari-hari terus berganti. Maka manfaatkanlah detik-detik waktu tersebut dengan kebajikan, maka beruntunglah ia. Tetapi bagi yang menyia-nyiakan waktu, berarti ia telah membuang kesempatan yang tidak akan terulang selamanya.

Alloh berfirman :

ü Demi masa.

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Alloh bersumpah dengan masa yaitu kesempatan yang tersedia untuk menggapai keberuntungan bagi orang-orang mukmin dan kesempatan yang disia-siakan oleh orang-orang yang lena. Dalam perjalan waktu pula terdapat pelajaran dan suri teladan bagi orang yang memiliki mata hati.

Bahwa waktu adalah salah satu karunia terbesar dari Alloh SWT dalam firman-Nya :
“Dan dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. (QS Al-Furqon: 62) Untuk makna waktu dan pengaruhnya, Alloh bersumpah dengan waktu dalam permulaan berbagai surat Al-Qur’an. Ia bersumpah dengan fajar :

ü Demi fajar,

Dan malam yang sepuluh. Ia bersumpah dengan malam dan siang. Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), Dan siang apabila terang benderang, Ia bersumpah dengan dhuha

ü Demi waktu

matahari sepenggalahan naik, Dan demi malam apabila Telah sunyi (gelap),

Sumpah Alloh dengan bagian-bagian waktu tersebut adalah untuk mengingatkan kepada maknanya sebab didalamnya terdapat tanda-tanda yang sangat agung dan manfaat serta pengaruhnya yang menentukan. Oleh karena itu, tidak ada yang lebih mahal dari pada umur yang dikaruniakan kepada manusia. Sumpah Alloh dengan waktu menjadi satu isyarat bahwa manusia sangat akrab dengan keburukan dan malapetaka dikarenakan lena dari kejapan masa. Sumpah Alloh dengan waktu juga mengisyaratkan tentang kemulyaan dan ketinggian kedudukan waktu. kesengsaraan dan kerugian yang menyertai manusia disebabkan sikap menyia-nyiakan waktu yang ada dalam diri manusia. Rasulullah SAW bersabda :

“ Jangan kamu memaki waktu sebab sesungguhnya Alloh itu adalah waktu”

Usia manusia sangat pendek, tidak lebih dari beberapa puluh tahun saja. Tetapi setiap detik usia yang dilewati akan dipertanggung jawabkan kelak di hari kiamat nanti. Rasulullah SAW Bersabda :

“ Pergunakanlah untuk mendapatkan keberuntungan, Lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya, yaitu masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, dan masa hidupmu sebelum datang masa kematianmu (Diriwayatkan oleh Al-Hakim)

Umur manusia adalah bagaikan umur tanam di dunia ini dan memetik hasil tanaman itu di akhirat nanti, maka tidak layak sebagai seorang muslim membuang buang kesempatan dan membelanjakan modal hidupnya di dalam hal-hal yang tidak berguna, bagi yang menyia-nyiakan waktu sekarang akan datang kelak pada suatu waktu dimana saat ia baru menyadari harga dan mahalnya amal perbuatan. Akan tetapi setelah kehilangan kesempatan, tiada berguna bagi penyesalan.
Dalam hal ini Alloh menyebutkan dua saat manusia menyesali dirinya :

  • Pada saat menanti ajal tiba, yaitu ketika ia sedang berada dalam keadaan akan meninggal dunia dan menghadapi akhirat. Ia berandai untuk di beri sekejab waktu agar dapat memperbaiki kekurangan dan menebus apa yang terlenakan.

  • Di akhirat kelak, dimana seluruh amal perbuaatan diberi balasan, disana hanya ada dua tempat para ahli sorga masuk sorga dan para ahli neraka masuk neraka, dan ahli neraka berandai untuk dapat kembali kealam dunia sekali lagi agar dapat memulai dari awal kehidupan baru dengan amal sholeh, namun tidak mungkin terwujut karena masa kesempatan untuk beramal sudah habis, yang ada adalah masa pembagian hasil pekerjaan.


Abdullah bin Mas’ud berkata “ Aku tidak menyesali sesuatu seperti penyesalanku pada hari matahari terbenam yang berarti umurku berkurang, akan tetapi amalku belum bertambah”
Hari demi hari silih berganti, malam demi malam saling mengikuti, begitu seterusnya, manusia adalah musafir yang sedang menelusuri perjalanan yang ditemani waktu hingga titik akhir. Seorang musafir yang bijak menyadari bahwa perjalanan adalah tugas berat dan penuh tantangan jangan dinikmati dengan santai dan besenang-senang, Sebab kesenangan dan kenikmatan adanya setelah sampai di tempat tujuan (Surga).

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tukeran link yukk!!!

Logo aq disini...
Host Gambar Gratis