Coba bayangkan ini,
Ada orang yang sudah diberkati dengan pekerjaan sebagai sarana penyejahteraan keluarganya, tetapi bekerja dengan setengah hati, kerja giat kalau ada bosnya atau mungkin karena belum dibayar sesuai dengan yang dianggapnya pantas.
Sedangkan pada saat yang sama, hari ini juga …
Ada saudara kita yang lain, yang mencari kerja, dan sudah lama melamar ke sana ke mari; bersedia melakukan apa pun dengan serajin-rajinnya, bersedia untuk dibayar berapapun, ... tetapi tidak ada yang bersedia memberinya pekerjaan.
Sehingga, seseorang yang sudah memiliki pekerjaan, tetapi tidak bekerja sepenuh hati – adalah orang yang tidak bersyukur bahkan mungkin kejam.
Tidak bersyukur, karena dia menyepelekan awal baik yang diberikan oleh Tuhan sebagai tangga menuju kesejahteraan yang besar, jika dia bersedia bekerja keras dalam kejujuran.
Dan kejam, karena ada banyak sekali jiwa-jiwa jujur dan rajin yang sangat membutuhkan pekerjaan, tetapi yang tidak tersedia tempat baginya, karena telah diduduki oleh orang yang bekerja setengah hati itu.
Untuk itu kita mesti menyatukan kebaikan hati kita untuk mensyukuri pekerjaan baik yang sudah diberkatkan kepada kita, untuk bekerja keras dalam kejujuran, dan menyisihkan tenaga dan kemampuan untuk membantu orang-orang yang belum bahkan tidak bias merasakan kenikmatan seperti yang qta miliki.
Jika untuk kebaikan, jangan menunggu pemimpin.
Kitalah pemimpin kehidupan kita yang sesungguhnya.
Qta tidak boleh berlama-lama hidup dalam keluhan dan kegusaran untuk saling menyalahkan. Kita adalah saudara dan sahabat dalam kebenaran dan kesabaran. Sedah selayaknya qta melakukan apa yang menjadi tanggungjawab qta. Marilah kita mendahulukan yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki kehidupan, sedikit demi sedikit qta pasti merasakan kenikmatan dan kesejahteraannya.
Sedangkan pada saat yang sama, hari ini juga …
Ada saudara kita yang lain, yang mencari kerja, dan sudah lama melamar ke sana ke mari; bersedia melakukan apa pun dengan serajin-rajinnya, bersedia untuk dibayar berapapun, ... tetapi tidak ada yang bersedia memberinya pekerjaan.
Sehingga, seseorang yang sudah memiliki pekerjaan, tetapi tidak bekerja sepenuh hati – adalah orang yang tidak bersyukur bahkan mungkin kejam.
Tidak bersyukur, karena dia menyepelekan awal baik yang diberikan oleh Tuhan sebagai tangga menuju kesejahteraan yang besar, jika dia bersedia bekerja keras dalam kejujuran.
Dan kejam, karena ada banyak sekali jiwa-jiwa jujur dan rajin yang sangat membutuhkan pekerjaan, tetapi yang tidak tersedia tempat baginya, karena telah diduduki oleh orang yang bekerja setengah hati itu.
Untuk itu kita mesti menyatukan kebaikan hati kita untuk mensyukuri pekerjaan baik yang sudah diberkatkan kepada kita, untuk bekerja keras dalam kejujuran, dan menyisihkan tenaga dan kemampuan untuk membantu orang-orang yang belum bahkan tidak bias merasakan kenikmatan seperti yang qta miliki.
Jika untuk kebaikan, jangan menunggu pemimpin.
Kitalah pemimpin kehidupan kita yang sesungguhnya.
Qta tidak boleh berlama-lama hidup dalam keluhan dan kegusaran untuk saling menyalahkan. Kita adalah saudara dan sahabat dalam kebenaran dan kesabaran. Sedah selayaknya qta melakukan apa yang menjadi tanggungjawab qta. Marilah kita mendahulukan yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki kehidupan, sedikit demi sedikit qta pasti merasakan kenikmatan dan kesejahteraannya.
Salam kenal
BalasHapuskunjungan pertama.
Betul itu...., sibuk emang mengasyikan..... :X
BalasHapusSalam kenal, kunjungan perdana...........
wahhh..udah ada yang baru...
BalasHapussama nih..
BalasHapusku jugha lagi sibuk...
hehehehe....
:)]
Setuju keluhan gak ada gunanya..
BalasHapussibuk itu mengasyikkan tapi jangan terlalu sibuk ntar kecapean...
hehehehh
keren
mendingan sibuk (tapi ga pake banget)..jadi hidup lebih dinamis :)
BalasHapussibuk iru mengasikkna pada komposisi dan takaran yang pas..tapi kalau sibuk berkelebihan bisa bikin gila juga :D
BalasHapussalam silaturahim ...
BalasHapusbenar, saat Allah telah memberi kita pekerjaan, bersyukurlah dengan bekerja sepenuh hati.
Jika untuk kebaikan, jangan menunggu pemimpin.
BalasHapusKitalah pemimpin kehidupan kita yang sesungguhnya.
siiip... :D
ironis memang daLam membaca tuLisan di atas, entah sistematis recruitment nya yang error atau human nya yang error.
BalasHapuspemimpin seutuhnya adaLah orang yang mampu memimpin sendiri dirinya .
betul shanty, sibuk itu asyik aq merasakan kek gtu
BalasHapusbener banget tu, jadi nyesel telah males2an
BalasHapuskalau sibuk boleh asal jangan super sibuk heee, nanti akan ada super malas, sukses selalu
BalasHapusbener banget....
BalasHapusmenarik nih artikel pengembangan dirinya, izin di save yah
BalasHapus