Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Mei 2010

Salah Masuk Kamar

Sudah lama aku tak bertemu dengan temanq Sri Utami, tentunya aq sangat kangen sama dia apalagi dia telp aku untuk minta ditemenin hunting baju di mall, wah seneng banget!!! (Lumayan sambil cuci mata)

Janjiannya sih emang habis magrib tapi dia bilang sebelum magrib tidak ada acara so pas setelah sholat ashar aku langsung tancap motorq ke kos-kosan Sriut, kos-kosan yang sudah aku hafal sejak aku kerja satu perusahaan sama dia, terletak di daerah Semambung, Driyorejo. Saat itu kulihat suasana kos-kosan lagi sepi makanya aku langsung nyelonong masuk kawasan kos-kosan putri tersebut dan masuk kamar nomor 2, aku lihat Sriut lagi tidur pulas (dalam hatiku tumben nie anak jam segini dah molor) aku lihat suasana kamarnya tak seperti kamar yang kukenal, banyak baju berserahkan, make up yang digunakan juga beda dengan merk favoritnya Sriut , tidak ada majalah tapi ada komik (sejak kapan nie anak berubah suka baca komik), pokoknya beda deh dengan Sriut yang dulu tapi ada cemilan snack Gery yang sama dengan kesukaan Sriut, tapi rata C anak daerah Driyorejo punya snack Gery coz belinya langsung dipabriknya (produk afkir tapi rasanya tetep sama dengan yang bagus n harganya juga jauh lebih murah). Sambil baca komik , aku makan cemilan yang diatas meja itu.

Tak lama kemudian orang yang tidur di tempat tidur itu pindah posisi, dia merubah posisi sehingga wajahnya dapat terlihat jelas olehq, tentu saja aku sangat kaget karena orang yang dari tadi kusangka sriut ternyata orang lain. Tanpa pikir panjang n tanpa diperintah akupun langsung teriak

AAAAAAAaaaaaaahhhhhhhh……………………………………………..

Ternyata teriakanku membangunkan orang yang tidur itu dan tidak Cuma itu, semua penghuni kamar kos-kosan keluar dari kamarnya. Sebelum mbak yang terbangun itu berkata aku langsung minta ma’af padanya dengan rasa malu, tak lama kemudian Sriut membuka kamar nomor 2 itu.

Sriut : Santet (begitu biasa Sriut memanggilq), ngapain ada disini?

Aku : Katanya qta mo jalan-jalan???

Sriut : Lagian janjiannya khan setelah magrib, kamu maen nyelonong masuk ae, untung ini kos putri kalau campur cowok n u salah masuk kamar cowok gmna?? Kebiasaan ini !!!

Aku : YA sorry bu, justru ini kos-kosan putri makanya aku langsung nyelonong masuk, aq khan jg putri!! Kupikir ini kamarmu, kamu pindah kamar kok ga’ ngomong2 C!!!

Sriut : Ya udah kenalin ini Rina ( sambil menunjuk kearah mbak yang terbangun tadi), Rina ini anak baru dan katanya dia ga’ berani tidur di kamar nomor 3 kamu ngerti khan sejarah kamar nomor 3.

Emang sih dulu aq sempat diceritain Sriut tentang kisah penghuni kamar nomor tiga yang meninggal tertabrak mobil saat pulang kerja dan sejak itu banyak penghuni kos yang sering merasa dihantui apalagi yang tidur dikamar nomor tiga. Tapi sriut tak pernah takut ama gitu2an coz prinsipnya “Manusia adalah mahkluk Tuhan yang paling sempurna” ngapain takut sama setan.

Akhirnya qta bertiga ngobrol bareng n ternyata Mbak Rina orang yang ramah n bajunya berserakan bukan karena jorok tapi karena belum sempat nata baju, maklum baru pindah kamar.

Rabu, 05 Mei 2010

SUKA BUKAN BERARTI CINTA


Chatting hari ini membuatq bahagia, Saat ku ngobrol dengan seseorang yang ku kenal dari Facebook, dia adalah Deni teman SMAq dulu.

Hari sabtu Deni menelponku untuk mengajak ketemuan setelah lama dia tak menghubungiku karena sibuk terus bersama Anggie (pacarnya). Deni datang kerumahku pada pukul 19.00 WIB, kebetulan didepan rumahku ada ayah dan temannya sehingga Deni langsung di suruh ayah masuk keruang tamu, padahal sebelumnya teman-temanku hanya bisa menemuiku di teras rumah aja. Mata Deni seakan tak bisa berkedip ketika melihat perubahan pada penampilanku yang dulunya aq seorang teman wanita berkacamata yang kuper tapi pandai, aq tau Deni dari dulu mendekatiku karena dia ingin aq memberi contekan kepadanya.

Laras (aku) : Hello….. (sambil menggerakka telapak tanganku di depan matanya)

Deni : (langsung terkejut )Kau cantik sekali …

Laras : Tumben kamu bilang aku cantik ? bisaanya kau bilang mukaku kotak kaya’ buku |(sambil tersenyum)

Deni : Itukan dulu, sekarang udah berubah 180®, tambah cuantiiikkkk!!! Lha wonk kulihat wall facebook kamu ja buanyak banget penggemarmu.

Laras : bisa ja!!!

Tak terasa waktu berjalan sangat cepat padahal masih banyak cerita yang ingin aq katakan pada Deni begitupun juga dia. Tepat pukul 21.00 WIB ayahku memanggilku dan memperingatkanku kalau tamunya harus disuruh pulang karena jam main sudah habis. Aku kembali menghampiri Deni dan mengatakan apa yang dipesankan oleh ayah, Deni langsung tertawa dan berkata “Ternyata keadaan dirumah ini masih sama kaya’ dulu ya, q pikir udah berubah semuanya, ya udah besok aq menjemputmu untuk jalan-jalan ya…?”. Aku mengangguk sambil tersenyum member isyarat setuju dengan ajakan Deni.

Hari minggu pagi Deni sudah ada didepan rumahku, bahkan aq belum sempat mengisi perutku, aq menghampirinya…

Laras : Woi… ini masih pagi, lihat donk ini masih jam enam, ayam aja masih belum berkokok, entar ja kamu jemput aku jam sepuluh.

Deni : Aq memang penasaran, pingin liat wajahmu saat belum mandi (sambil tersenyum)

Laras : Emangnya kenapa, tadi malam susah tidur gara-gara teringat wajahku terus ya?? (candaku)

Deni : Kok tau? Kamu ngintip saat aq tidur ya…?. Oh ya cepetan kamu mandi n ganti baju yang cantik coz aq mau mengajakmu ke pantai…

Laras : Wouw… kaya’nya asyik tuh, tapi aq ajak adikq ya coz pamali kalau kita pergi kepantai berdua.

Deni : Hari gini masih ada pamali bu…? Capek dech!!!

Laras : Up to u, kalau berangkat harus sama adikq, tapi klu berduaan, ogah deh!!!

Deni : OK deh!! Jangan lama-lama ya…

Laras : Siap bosss!!!!!

Tak lama kemudian aq berangkat bersama adikq dan Deni ke pantai. Angin pantai yang sejuk dan ombak yang indah mengajakku untuk bermain di pinggir pantai, kami bertiga sangat menikmati suasana pantai. Setelah lelah bermain air dipinggir pantai, kami memutuskan untuk cari makandi café dekat pantai. Tak jauh dari tempat duduk kami adikq melihat temannya yang lagi berkumpul akhirnya adikq ikut bergabung dengan teman-temannya dan tinggallah aq dan Deni semeja berdua.

Deni : Kau cantik hari ini..

Laras : Waduh… perasaan kamu udah ngucapin kata itu udah lebih dari 1000 kali (candaq)

Deni : Oh ya…? Aq suka sama kamu!

Laras : (seneng deh dengernya, seandainya ja dia tau kalau aq juga suka kepadanya sejak dulu, tapi aq malu kalau harus bicara soal perasaan ) Udah deh ngomongin yang lain ja?

Deni : emangnya ada yang marah ya kalau aq suka sama kamu, kamu udah punya pacar?

Laras : Belum C… coz belum ada yang cocok ! (Dalam hatiq tembak donk Den bilang kalau kamu cinta aq n menanyaiq, aq bersedia atau tidak untuk jadi pacar kamu)

Deni : Sejak putus dengan Anggie, Aq belum punya pacar.

Tangan Deni memegang tanganku, seluruh badanq terasa merinding n seakan jantungq berdetak kencang qberharap dia mengatakan I LOVE YOU.

Deni : Cepetan dimakan makanannya ntar keburu dingin.

Laras : (langsung menarik tangannya dan bernafas panjang) Iya…iya (duh aq kok berharap aneh-aneh C, ini khan yang dikatakan temen2 PDKT)

Hari udah sore, akhirnya kami bertiga pulang, dalam perjalanan kami bertiga terlihat lelah, adikq tidur dikursi mobil belakang n aq tidur disamping Deni. Meskipun dalam keadaan nyetir mobil, Deni tetap meyuruhku untuk menaruh kepalaq dipangkuannya, keadaan ini malah membuatku susah tidur, tapi aq tetep pura-pura tidur. Sesampainya dirumah aq melanjutkan tidurq yang sempat tertunda.

Sejak sat itu aq dan Deni sering bepergian untuk sekedar jalan-jalan n antar jemput aq ke kampus, tapi hubungan ini bisa dikatakan hubungan tanpa status sebab Deni tidak pernah katakan cinta keaq (padahal aq sangat menantikan kata-kata itu) tapi aq mencoba membuang perasaan itu dan merasa bahwa perhatiannya dan perbuatannya selama ini sudah mewakili kata-kata yang aq harapkan.

Kurang lebih sudah 3 bulan kami menjalani hubungan ini, kami merasa have fun aja. Tapi pas menginjak bulan keempat, Deni sering menerima telepon dan telepon itu seakan disembunyikan dari aq karena setiap ada telepon Deni langsung menjauh dariq setiap aq Tanya dia selalu menjawab dari TEMEN, tentu itu membuatq penasaran dalam hatiku “Aq harus cari tau telepon dari siapa?”.

Sepulang dari kampus aq mengajaknya mampir ke café untuk makan dan mencari tau penelpon yang sering mengganggunya. Sebelum aq bertanya dan mencari tau tentang siapa penelpon itu, Deni bertanya duluan :

Deni : Apa kau mencintaiku?

Laras : (Dalam hatiku kenapa kau Tanya ini, apakah perbuatanq selama ini tidak mewakili kata-kata itu) Ku mencintaimu seperti kau mencintaiku

Deni : syukurlah.. karena selama ini aku hanya menganggapmu sebagai sahabat, aq takut kau menganggap semua perlakuanq lebih dari itu..

Laras : (Kutahan air mataq agar tidak jatuh dan segera menarik nafas panjang) Iya… hanya sahabat.

(dalam hatiku masa’ kataku tadi selayaknya seorang sahabat).

Badanq terasa lemas, seakan langit mau runtuh, mungkin ini yang dirasakan orang yang putus cinta, cinta pertamaq hancur sebelum dimulai. Tapi aq coba menguatkan hatiku (Sabar laras sabar…. Kamulah yang salah, dia tak pernah mengatakan cinta kepadamu dia hanya mengatakan suka kepadamu)

SUKA BUKAN BERARTI CINTA

Aq tak bisa berlama-lama bersama Deni, aq takut kalau dia melihatq meneteskan air mata.

Laras : Anterin aq balik yuk!! Perutq sakit nih coz lagi dapet. (ku pegang perutq sambil mengerutkan dahi)

Aq pun meneteskan air mata tapi aq yakin Deni menganggapq nangis karena sakit perut bukan karena kata-katanya.

Deni : Ya udah aq anterin pulang ya….

Laras : Ntar sore aq on line Facebook so qta lanjutin pembicaraan ini lewat chatting facebook.

Pas jam tujuh malam aq online facebook dan kulihat deni juga online, akhirnya kamipun ngobrol tapi lewat Yahoo Mesenger agar loadingnya lebih cepet.

Deni : gmna keadaanmu sekarang?

Laras : lebih baikan, ya udah silahkan dilanjutin pembicaraan tadi siang. Pasti ada yang ingin kamu katakana padaq!

Deni : Hari sabtu depan Anggie akan balik dari Australia

Laras : Terus apa hubungannya denganmu?

Deni : aq balikan lagi dengan Anggie.

Laras : (sangat terkejut) Bukannya kalian tidak pernah ketemu, gimana mo balikan?

Deni : Aq dan Anggie putus dari chatting n balikan lagi lewat chatting. Kalau menurutmu gmna?

Laras : Sebagai sahabat kalau kau merasa bahagia, aq pun bahagia. Aq tak mengerti dengan cintamu tapi q selalu berharap agar kau menemukan seseorang yang terbaik untukmu.

Deni : Makasih Laras! kau memang sahabat terbaikq.. Muachhhh

Ingin rasanya kubanting laptopq, begitu mudahnya kau mengalihkan perhatianq kemudian mencampakkanq. Sejak saat itu Deni tak pernah menghubungiq apalagi antar jemput aq ke kampus.

Pas hari kamis aq kebandara dengan keluargaq untuk menjemput kakakq yang pulang dari Malaysia, kulihat Deni sedang duduk sendirian di kantin bandara, aq berpamitan pada adikq untuk menghampiri Deni. Aq menghampirinya dan duduk didepannya.

Laras : Sedang apa kamu kok sendirian?

Deni : Aq ndak sendirian kok!

Tak lama kemudian Anggie datang dan langsung mencium pipi kanan dan kiri Deni.

Anggie : Hei… kamu kaya’ laras tapi cantik banget!!! (Sambil mengulurkan tangannya untuk mengajakq bersalaman).

Laras : Makasih… Kamu juga cantik! (Sambil bersalaman) Ya udah silahkan dilanjutin pembicaraan kalian aq mau gabung dengan keluargaq mau menjemput kakakq

Anggie : O ya udah, Silahkan!!!

Q pergi meninggalkan mereka dan entah mengapa air mataku susah banget diajak kompromi, kenapa mesti nangis C!!! aq menyandarkan punggungq di dinding depan kantin dan mengintip mereka dari kaca kantin. Jujur aq sangat iri dengan Anggie, kenapa cinta ini datang padaq ?????

Sabtu, 27 September 2008

Kebahagiaan tak bisa diukur oleh harta

Pernikahan yang megah telah qrasakan, tidak lah heran karena aq anak orang kaya dan suamiqpun sangat kaya. Gemerlap lampu hotel dan berbagai makanan dan minuman semakin melengkapi ksempurnaan perta itu, “Sungguh beruntung kehidupanku, tiada yang kurang dalam hidup, terima kasih yang Alloh”. Bisik hati rani.

Rumah tangga yang sakinahpun telah dimiliki, indahnya senyuman suami istri mewarnai kebahagiaan, Rumah, mobil, serta kekayaan yang berlimpah. Sembilan tahunpun telah terlewati namun Tuhan belum memberiku seorang anak. Hari-hariku mulai terasa sepi, suamipun sibuk dengan pekerjaannya, seakan tiada lagi kegembiraan yang aku rasakan. Atau mungkin tak pantas ku memelihara seorang anak????

Suasana pagi menyegarkan hariku, membuatku semakin semangat untuk melaksanakan tugasku menyiapkan segala keperluan suamiku, “sarapan sudah siap papiku saying, ayo kita makan dulu” sambil membenahi dasi biru yang melingkar di balik kra kemeja putih yang dikenakan suamiku. “mami terlihat cantik hari ini” sambil mencium keningku, itulah yang mampu memberiku semangat dalam menjalani kehidupan.

Makanan sudah tertata rapi dimeja makan, dari delapan kursi, hanya dua kursi yang selalu berpnghuni, ke-enam kursi itu Sembilan tahun selalu kosong, “Pi bagaimana kalau kita mengadobsi seorang anak?? Itulah yang selalu aku sampaikan dimeja makan, tapi itu juga yang membuat suamiku hilang nafsu makannya karena ia ingin memiliki seorang anak dari darah dagingnya sendiri. “ Maaf mi aku sudah telat, aku berangkat kekantor dulu ya…” akupun mengantarkan suamiku sampai diluar pintu depan rumahku.

Detik jam seakan memecah keheningan, sudah jam 01.00 suamiku belum juga pulang, tiada henti kulihat pintu itu dan berharap suamiku membuka pintu itu. matakupun seakan tak mampu kubuka lagi hingga akhirnya ku tertidur dikursi ruang tamu. Sinar mentari membangunkanku , namun suasana senang singgah dihatiku karena ada selimut yang menutupi badanku dan aku yakin kalau suamiku yang menyelimutiku.
Suara langkah seseorang dari dalam rumah, kuharap itu adalah suamiku namun itu hanya perempuan setengah baya yang membawakanku secangkir teh hangat. “Bi.. apa tuan sudah pulang??” tanyaku pada wanita itu. “ Ma’af bu, saya telah lancing menyelimuti tubuh ibu, sebenarnya saya kemaren juga tidur di bawa kursi ibu, dan saya sengaja tidak membangunkan ibu karena kulihat ibu sangat kecape’an. Tuan memang belum pulang dari kemaren.”

“Hhhhhmmmmmmm, tak biasanya tuan pergi tanpa ijin dulu sama saya” gerutuku pada bibi yang kusuruh menemaniku duduk disampingku. Sudah 50 kali kuhubungi handphone suamiku tapi hasilnya tetap sama, handphone itu tidak aktif. Akhirnya ku telepon kekantornya, tapi kata sekertarisnya Bapak tidak masuk sejak kemaren. Aku semakin cemas dan bingung. Seluruh daftar nama teman yang ada di dekat telepon, semua kuhubungi namun tiada satupun yang tau dimana suamiku.

Alhamdulilah akhirnya handphone suamiku bisa kuhubungi “ Maaf mi, saya ada keperluan di luar kota, kantor kita di Medan ada sedikit masalah dan mungkin sekitar satu minggu aku tidak pulang, mohon ma’af ya mi” kalimat itu sudah membuatku tenang karena papiku dalam keadaan baik-baik saja. Tak lama kemudian sekertarisnya telepon dan mengatakan kalau Bapak sekarang ada dikantor. Ini semakin membuatku bingung, Akhirnya aku putuskan untuk menyusul ke kantor dan mungkin ada pekerjaan yang bias aku kerjakan disana, itung-itung sekalian membantu suamiku.

Sesampainya di kantor kulihat mobil papi keluar dari halaman kantor.
“Pak, tolong ikuti mobil Tuan tapi jangan sampai ketahuan ya..” perintahku pada Pak Khasan yang sudah 20 tahun bekerja pada papaku dan kini menjadi sopirku dirumahku yang baru.
Sekitar dua jam dari kantor, kulihat papi masuk di suatu halaman rumah di Jl. Anggrek No. 15 alamat itu langsung terekam dalam ingatanku, di depan pintu kulihat seorang wanita sedang mengandung menyambut kedatangan suamiku, merekapun masuk dan menutup kmbali pintu itu. Aku semakin penasaran, ingin rasanya aku ikut masuk kedalam rumah untuk mencari tahu apa yang terjadi didalamnya, tapi kupikir itu terlalu lancang, karena aku mengikuti suamiku secara diam-diam dan mencurigainya tanpa ada bukti yang pasti. Akhirnya aku Tanya seseorang yang kebetulan tukang kebun dirumah itu.
“Mohon ma’af pak, ini rumah siapa ya?” Tanyaku pada Bapak yang sdang memotong rumput didepan rumah itu.
“ Ini rumah P. Rony suami Ibu Yuli, barusan orangnya pulang, Ibu ada perlu dengan beliau?” jawab tukang kebun itu.
Hatiku semakin memanas, namun aku tetap mengendalikan smua perasaanku, aku ingin membicarakannya langsung pada suamiku dan meminta pnjelasan dari dia.

Sesampainya dirumah aku telepon handphone suamiku tapi handphone itu tidak pernah aktif, suamikupun tak kunjung pulang.
Setiap pagi aku melihat keadaan dirumah Jl. Anggrek No. 15. Suasanaya sangat menyenangkan, aku iri melihatnya dan ingin segera merebut semuka kebahagiaan itu, tapi melihat wajah suamiku yang merasa snang itu, aku tak mampu untuk menghilangkan kegembiraan itu dari wajahnya. “Andaikan wanita itu adalah aku”.

Alhamdulilah…..
Akhirnya suamiku pulang kepadaku, akupun menutupi rasa kesalku padanya, kutetap tersenyum padanya dan menganggap smua tidak pernah terjadi. Tapi pas suasana santai di teras belakang rumah, aku teringat dengan kejadian di Jl. Anggrek No. 15 itu. Akhirnya aku bertanya pada suamiku.
“Yang tinggal di rumah Jl. Anggrek No. 15 itu siapa pi?” tanyaku pada suamiku.
“Mami itu ngomong apa sih? Kok tiba-tiba Tanya itu, aku mana tahu mi, rumah itukan jauh dari rumah kita.” Jawab suamiku dengan santai.
“ Tapi saya mlihat dengan mata kepalaku sendiri kalau papi kerumah itu, dan ada wanita yang sedang hamil di dalam rumah itu.” Gerutuku pada suamiku.
Wajah suamiku semakin memerah. Akhirnya dia berterus terang kalau dia telah nikah sirih dengan wanita itu dan anak yang dikandungnya adalah anaknya. Tapi setelah mengatakan itu, suamiku pergi meninggalkan rumah yang kubangun dengan keringatku dan suamiku sebelum kita menikah, serta kasih sayang kita berdua.

“ Ya Alloh jika kuboleh meminta, apa artinya kemewahan ini jika ku tak bisa merasakan kebahagiaan, ku rela kau ambil semua hartaku tapi jangan suamiku dan ku mohon berikan aku seorang anak agar aku bisa melengkapi kesmpurnaan keluargaku. Tapi jika aku tak bisa membahagiakan suamiku maka ambillah nyawaku karena aku hidup hanya untuk membahagiakan suamiku.” Pintaku disetiap doaku.

Kadang juga ku berpikir, kenapa seorang wanita harus melayani semua kebutuhan laki-laki dan harus menerima semua kelebihan dan kekurangan suaminya sementara lelaki akan meninggalkannya jika wanita tak bisa memenuhi keinginannya, padahal wanita juga berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi semua kinginannya namun kenapa mesti sperti itu??????

Created by Shanty dwisusanty
(hanya fiktif belaka)

Tukeran link yukk!!!

Logo aq disini...
Host Gambar Gratis